Bali River Rafting Blog

Peluncuran Buku Pelukis Bali I Gusti Nyoman Lempad

24 Juni 2014

Lempad telah menjadi bagian dari seni lukis Bali. Ia adalah sumber inspirasi yang tidak pernah kering untuk generasi seni berikutnya. Sejarah dan pengembangan seni lukis Bali tidak bisa dipisahkan darinya.

Buku yang mengungkap kehidupan seniman legendaries Bali, I Gusti Nyoman Lempad diluncurkan Kamis 19 Juni 2014 di Museum Arma, Ubud, Gianyar. Acara terbuka untuk umum ini diresmikan oleh Goenawan Muhamad, budayawan yang juga tokoh jurnalis senior. Lempad, pelukis yang dikenal kerap mengunakan tinta hitam putih, dilahirkan di Bedahulu tahun 1862 dan wafat pada tahun 1978, juga dikenal sebagai undagi, pematung pembuat topeng dan sangging yang piawai.

Selain itu, seniman yang disebutkan sebagai tokoh pelukis gaya Pitamaha ini juga ahli dalam aturan dan ukuran bangunan trandisional rumah Bali. Buku ini ditulis oleh Jean Couteau serta dieditori Ana dan Antonia Casanovas. Di dalamnya tidak hanya mengupas perjalanan hidup Lempad, melainkan juga memaparkan sejarah serta latar belakang cultural yang diperkuat dengan kajian seni yang mendalam.

Buku ini ditulis agar kita dapat memahani bagaimana memperlihatkan integrasi seniman dalam lingkungan kulturalnya dan apa yang membuatnya mampu melampaui lingkungan itu dan menjadi genius antar bangsa. Karya-karya Lempad banyak melukiskan keseharian masyarakat dan kehidupan pewayangan. Lempad mendapat Anugerah Seni dalam bidang seni lukis dari Pemerintah Indonesia pada tahun 1970 dan penghargaan Dharma Kusuma dari Pemda Bali tahun 1982.

Lempad menjadi sahabat banyak seniman termasuk Rudolf Bonnet dan Walter Spies yang sempat lama menetap dan berkesenian di Bali. Karya-karya Lempad dikoleksi di Tropen Museum di Amsterdan, Belanda, Museum Voor Volkenkunde di Basel dan sejumlah museum di Bali seperti Museum Rudana, Museum Puri Lukisan Ratna Warta, Museum Arma dan di Art Center Denpasar Bali.

Seniman I Gusti Nyoman Lempad dulunya tinggal di 500 meter arah timur Puri Ubud. Tidak diketahui dengan pasti kapan ia dilahirkan, tetapi banyak sumber mengatakan anak ketiga dari empat bersaudara ini dilahirkan tahun 1862 dan telah menikah ketika Gunung Krakatau meletus di tahun 1883. Menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 25 April 1978.

Lempad tidak bisa membaca karena ia tidak bersekolah secara formal, namun ia bisa menulis namanya di atas lukisannya dengan mencontoh. Ketika berusia 40 tahun, ia membantu Walter Spies membangun rumahnya di Campuhan, Ubud. Suatu ketika, Walter Spies melihat coretan lukisan Lempad di atas secarik kertas, ia lalu mengagumi dan membayarnya dengan kemeja, kain dan lain-lain. Walter Spies lalu menasehati Lempad untuk terus melukis apapun yang ada di kepalanya dan tetap focus pada gaya melukisnya.

Lempad akhirnya berkonsentrasi pada lukisan wayang dengan mengambil tema Ramayana dan Mahabrata. Gayanya yang mengesankan, mudah untuk ingat, seperti memahat gaya Tjokot. Ia selalu mengunakan cat hitam diatas kertas putih yang menghasilkan bentuk yang bagus, gaib dan kuat dan nampak tak diputuskan. Banyak orang yang tidak mengetahui apa yang ada di dalam pikiran Lempad ketika ia menorehkan kuas diatas kertas.

Sepanjang hidup Lempad tidak pernah jauh dari kayum kertas dan pensil atau tinta Cina. Salah satu aspek yang menarik dari pekerjaannya adalah ketidak-sempurnaan. Lempad menyenangi semua dari pekerjaannya yang belum selesai karena dari sana ia dapat menyempurnakan menurut inspirasinya.

Meskipun alat yang digunakannya untuk melukis sangat sederhana. Tetapi dari sanalah Lempad dapat melihat kekuatan garis dan ketelitian. Lempad dalam melukis jarang menonjolkan warna kecuali untuk memperkenalkan aksen atau untuk memperkuat corak tertentu. Ia bekerja menurut tema Jayaprana, Dukuh Suladri, sebagai contoh.

Lempad juga aktif dalam pembentukan Pitamaha, suatu organisasi seni yang didirikan oleh Tjokorde Gde Agung Sukawati, Walter Spies, dan Rudolf Bonnet di tahun 1935. Organisasi ini telah dipimpin oleh Walter Spies dan sejumlah seniman Bali sampai tahun 1950-an. Pitahama memperkenalkan gaya lukisan barat kepada seniman muda Bali dan memperkenalkan karya mereka kepada pengunjung dari luar negeri melalui pameran di dalam maupun di luar negeri.

I Gusti Nyoman Lempad mendapat penghargaan dari pemerintah Indonesia pada HUT RI ke-25 berupa medali emas dan uang Rp.100.000. Penghargaan lain adalah Hadiah Udayana tahun 1975 dan Dharma Kusuma tahun 1982. Lempad beserta karya-karyanya juga didokumentasikan dalam flim oleh Lome Blair dan Yohanes Darling yang bekerja sama dengan televise Australia. Film documenter Lempad itu menerima penghargaan sebagai flim documenter terbaik dalam festival film Asia yang ke-26 di Yogyakarta.